Contoh Banner

Sakit Nggak Jadi Penghalang

Ia seorang pemuda yang ringkih. Jantungnya Iemah, kondisi fisiknya juga Iemah. Namun amat berbeda dengan semangatnya. Sebuah peristiwa yang tak ada duanya. Dimana tetes air mata bercampur dengan senyuman. Pohon-pohon dan ranting bersedih, namun gemerlap cahaya menumbuhkan bunga-bunga kebahagiaan. Meski senandung kebahagiaan itu tercampur oleh rajutan kesedihan.

Dalam hidup ni, berapa banyak masalah yang menyedot perhatian kita? Anak-anak yang masih kecil membutuhkan susu dan makanan bergizi, bagi yang telah punya keluarga, sibuk memikirkan kesejahteraan keluarga, tugas-tugas kantor yang menumpuk, dakwah dan seabrek aktifitas lainnya yang bikin stress. Oya, tapi dalam hal dakwah kita harus berlomba, karena ini merupakan kewajiban setiap muslim.

Pada umumnya, cita-cita kita sebagai manusia adalah membahagiakan orang lain, kemanapun kaki kita melangkah dan kita menetap. Sementara kebahagiaan itu hanya bisa kita peroleh dengan iman dan takwa. Dengan iman kita bisa memberi kebahagiaan dalam arti yang lebih luas.

Pemuda ini mengalami kesulitan hidup, terutama yang berhubungan dengan penyakitnya. Selama ni ia telah mengidap penyakit jantung yang cukup parah. Namun dengan kesabarannya, semua itu justru semakin membuatnya lebih steril dan bersih.

Dokter dan bahkan banyak orang sudah mengetahui kondisi jantungnya yang sakit, hanya saja pemuda itu tak berhenti mencari jiwa-jiwa yang gersang dan lumpuh yang masih berserakan di sana-sini untuk dibimbingnya sebagian menjadi hamba Allah Ta’ala yang sejati.

Di antara kelemahannya tersembunyi kekuatan yang dahsyat. Ia terus berusaha mencari hati yang bercerai-berai untuk disatukan kembali menjadi sebuah hati dan jiwa yang utuh menjalani kebenaran dalam arti yang sesungguhnya. Menjadikan mereka senantiasa lurus dalam agamanya.

Pemuda ini seorang guru dan mengajarkan berbagai ilmu yang bermanfaat untuk akhirat dan kebersihan jiwa. Tak jarang, saat mengajar, jantungnya berdegup kencang dan nafasnya menjadi sesak. Tangan yang satu mendekap dadanya yang sakit, satunya lagi digunakan untuk memberi petunjuk dan mengajar. Sungguh menakjubkan.

Dadanya begitu sakit. Sakit sekali. Namun dibibirnya tetap tersungging senyuman. Wajahnya dipenuhi cahaya iman. Adapun tempat derita dan sakit itu hanya dibagian dadanya saja. Subhanallah,betapa mulia pemuda ini. Sementara banyak pemuda yang sehat dan memiliki ilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya, sementara dia yang sakit masih berusaha menyumbangkan ilmunya.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, di tengah rasa sakitnya, pemuda ini berniat pergi ke London. Pemuda yang ternyata bernama Akhshaa-i ini sudah memiliki tekad bulat. Di London dia memiliki keinginan yang amat mulia. Di sana begitu banyak orang-orang yang kehausan dan kelaparan akan cahaya iman. Aku harus mulai dari sekarang.

Ya, pemuda ini memang memiliki tujuan untuk mengamalkan ilmunya untuk orang-orang yang membutuhkan, karena muslim di sana jumlahnya sangat minoritas. Di sana pasti membutuhkan seorang guru yang ikhlas dalam memberi ilmu.

Ia mengisi kopernya dengan berbagai atribut dan benda-benda yang dibutuhkan, muiai dan buku-buku agama dan berbagai bahasa, kaset-kaset pengajian dan ceramah dan lain-lain yang berhubungan dengan ilmu yang akan diajarkannya nanti. Ia begitu bersemangat dan penuh harapan.

Di London, ia mulai mengamalkan ilmunya. Setiap hari ia berhadapan dengan wajah-wajah yang haus ilmu, jiwa-jiwa yang sakit dan butuh pengobatan. Setiap hari ia berdiri dihadapan mereka dengan penampilan dan semangat yang tidak berubah. Tangan yang satu memegang dada dan tangan yang satunya memberi petunjuk untuk mengajar. Wajahnya tetap tersenyum. Ia mengajarkan ilmu sepenuh hati dengan keikhlasan yang sempurna.

Sesungguhnya pemuda ini seorang dokter, tapi dia lebih suka bekerja secara sukarelawan sebagai pengajar ilmu Allah Ta’ala. Dan pemuda ini sama sekali tidak memiliki beban apapun dengan pekerjaannya yang sangat melenceng jauh dengan titelnya. Semakin hari wajahnya kelihatan semakin berseri oleh cahaya iman dan kebahagiaan batin. Meski wajahnya semakin terlihat pucat karena penyakitnya, namun senyum di bibirnya tak pernah lenyap.

Saat pengobatan hati-hati yang terluka berlangsung, dan kehidupanpun mulai berdenyut pada hati-hati yang telah mati, lahirlah manusia baru berkat jasa pemuda ini. Di saat itulah, kondisi jantungnya semakin parah.

Cahaya mulai meredup. Dan sang pemuda tak mampu lagi untuk bertahan. Ajal tak dapat ditolak. Di atas pembaringan yang putih bersih, dokter ini menghembuskan nafas terakhirnya. Sungguh akhir kehidupan yang indah, disaat sebagian keinginannya telah terwujud.

Sebelum nafas berakhir, sepuluh kali syahadat terlontar dari bibirnya. Betapa lama kalimat ini tidak pernah muncul di kota itu, namun pemuda itu berhasil menghidupkan kembali kalimat indah itu.

Ia meninggalkan dunia dengan senyuman. Tak ada lagi yang ia butuhkan. Ia telah mengucapkan sepuluh kali syahadat. Allahuakbar.Tak sia-sia perjuangan pemuda
alim itu selama ni. Ia meninggalkan kehidupan menuju kehidupan lain yang
Iebih indah. Tidak ada rasa sakit, tidak ada penderitaan lagi di dalamnya. Insya Allah.


Rasulullah , bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapan dalam hidupnya adalah laa ilaaha iIIalah, maka Ia pasti akan masuk surga.”
Source : https://enkripsi.wordpress.com/2011/09/12/sakit-gak-jadi-penghalang/
Advertisement
Sakit Nggak Jadi Penghalang